Amraini – Learn Sunnah

Amalan Sunnah Pada Shalat Tahajjud

Video Penjelas (By. Yufid TV)
1. Dilakukan pada waktu yang paling utama yaitu sepertiga malam terakhir
Dalilnya adalah:
Kapan Dimulai Waktu Sholat Witir dan Tahajjud?

hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amru – Radhiyallahu Anhuma- ia berkata, Rasulullah –Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda,

«إِنَّ أَحَبَّ الصيامِ إِلَى اللّهِ صيامُ دَاوُدَ، وَأَحَبَّ الصَّلَاةِ إِلَى اللّهِ صَلَاةُ دَاوُدَ -عليه السلام-، كَانَ يَنَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ، وَيَقُومُ ثُلُثَهُ، وَيَنَامُ سُدُسَهُ، وَكَانَ يَصُومُ يَوْماً وَيُفْطِرُ يَوْماً»

“Sesungguhnya puasa yang paling dicintai oleh Allah adalah puasanya Nabi Dawud, dan shalat yang paling dicintai oleh Allah juga shalatnya Nabi Dawud. Ia (melakukan shalat malamnya dengan) tidur terlebih dahulu di separuh malamnya, lalu shalat malam sepertiganya, dan tidur kembali seperenamnya (malamnya dibagi menjadi enam, separuhnya yaitu bagian satu, dua, dan tiga, digunakan untuk tidur, sedangkan bagian empat dan lima digunakan untuk shalat –yakni sepertiga-, dan bagian enam digunakan untuk tidur kembali –yakni seperenam). Dan untuk puasa, ia melakukan puasa satu hari dan berbuka satu hari (berselangseling).” (HR. Bukhari no. 3420, dan Muslim no. 1159)

waktu shalat witir itu dimulai tepat setelah shalat isya selesai dilakukan, dan berakhir hingga datang waktu shubuh. Maka waktu shalat witir itu adalah waktu yang terbentang di antara shalat isya dengan shalat shubuh.

2. Mengerjakan dengan 11 rakaat
Jumlah inilah yang paling utama. Dalilnya adalah:

Hadits yang diriwayatkan dari Aisyah –Radhiyallahu Anha- ia berkata,

««مَا كَانَ رَسُولُ اللّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ، وَلَا فِي غَيْرِهِ، عَلَى إِحْدَى عَشرةَ رَكْعَةً»»

“Rasulullah –Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah menambah shalat malamnya lebih dari sebelas rakaat, baik pada bulan Ramadhan ataupun waktu-waktu lainnya.” (HR. Bukhari no. 1147, dan Muslim no. 738)

Hanya saja ada pula hadits lain yang diriwayatkan imam Imam Muslim dalam kitab shahihnya, dari Aisyah –Radhiyallahu Anha– menyebutkan bahwasanya Nabi –Shallallahu Alaihi wa Sallam– pernah melaksanakan shalat malamnya sebanyak tiga belas rakaat. 

Namun tentu saja jumlah itu hanyalah variasi yang bisa dipilih untuk shalat witir. Kedua hadits tersebut menjelaskan bahwa Nabi –Shallallahu Alaihi wa Sallam– lebih sering melakukan shalat witirnya sebanyak sebelas rakaat. Namun terkadang beliau juga melakukannya sebanyak tiga belas rakaat. Dengan begitu kedua hadits tersebut sama sekali tidak bertentangan.

3. Memulai shalat malam dengan melakukan shalat sunnah dua rakaat yang ringan
Dalilnya :

hadits yang diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha-, ia berkata

«كَانَ رَسُولُ اللّه -صلى الله عليه وسلم- إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ لِيُصَلِّيَ، افْتَتَحَ صَلَاتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ»

“Apabila Rasulullah –Shallallahu Alaihi wa Sallam– bangun dari tidur untuk shalat malam, maka beliau memulainya dengan melakukan shalat sunnah dua rakaat yang ringan.” (HR. Muslim no. 767)

4. Membaca salah satu doa istiftah yang diajarkan oleh Nabi – Shallallahu Alaihi wa Sallam- untuk shalat malam.
Doa Istiftah (1)

للَّهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسرافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صراطٍ مُسْتَقِيم

Allahumma rabba jibraila wa mikaila wa israfila fathiras-samawati wal-ardhi alimalghaibi wasy-syahadati anta tahkumu baina ibadika fima kanu fihi yakhtalifun, ihdini limakh-tulifa fihi minal-haqqi bi idznika innaka tahdi man tasya`u ila shirathim-mustaqim

Artinya: “…Ya Allah, Tuhan Jibril Mikail dan Israfil, wahai Pencipta langit dan bumi, wahai Tuhan yang mengetahui hal-hal ghaib dan nyata, Engkau yang memutuskan perkara yang diperselisihkan di antara hambahambaMu, tunjukkanlah aku, dengan seizin-Mu, pada kebenaran dalam perkara yang mereka perselisihkan, sesungguhnya Engkau-lah yang menunjukkan jalan yang lurus bagi orang-orang yang Engkau kehendaki).” (HR. Muslim no. 770).

Atau:

«اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَقَوْلُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ الْحَقُّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ، وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسررْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ أَنْتَ إِلَهِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ»

Allahumma lakal-hamdu anta nurus-samawati wal-ardh, wa lakal-hamdu anta qayyimus-samawati wal-ardh, wa lakal-hamdu anta rabbus-samawati wal-ardhi wa man fihinna, antalhaqqu, wa wa’dukal-haqqu, wa qaulukal-haqqu, wa liqaukal-haqqu, wal-jannatu haqqun, wan-naru haqqun, wan-nabiyyuna haqqun, wassa`atu haqqun, allahumma laka aslamtu, wa bika amantu, wa alaika tawakkaltu, wa ilaika anabtu, wa bika khashamtu, wa ilaika hakamtu, fagh-firli ma qaddamtu wama akkhartu wama asrartu wama a`lantu, anta ilahi, lailaha illa anta  

Artinya: ” Ya Allah, segala puji bagi-Mu yang memberi cahaya di langit dan di bumi, segala puji bagi-Mu yang memelihara langit dan bumi, segala puji bagi-Mu yang mengatur langit dan bumi serta siapa saja yang berada di dalamnya. Engkaulah Yang Mahabenar, janji-Mu pasti benar, firman-Mu pasti benar, pertemuan dengan-Mu pasti benar, surga itu benar adanya, neraka itu benar adanya, nabi kami itu benar adanya, hari kiamat itu benar adanya, ya Allah, kepadaMu lah aku berserah diri, kepada-Mu lah aku beriman, kepada-Mu lah aku bertawakkal, kepada-Mu lah aku bertaubat, kepada-Mu lah aku mengadu, dan kepada-Mu lah aku berhukum, maka ampunilah dosadosaku, baik yang telah lalu maupun yang baru-baru saja aku lakukan, baik yang tersembunyi maupun yang terlihat oleh orang lain, Engkau lah Tuhanku, tiada Tuhan melainkan Engkau).’” (HR. Bukhari no.7499, dan Muslim no.768 

Doa Istiftah (2)
5. Menyudahi dengan salam pada setiap dua rakaat sekali
Dalilny adalah:

Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Utsman –Radhiyallahu Anhu- ketika mencontohkan tata cara wudhu yang diajarkan oleh Nabi –Shallallahu Alaihi wa Sallam-. Pada hadits itu disebutkan,

 « … فَمَضْمَضَ، وَاسْتَنْثَرَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ … » 

“..Lalu ia berkumur, beristinsyaq, kemudian membasuh wajahnya sebanyak tiga kali..” (HR. Bukhari no.199, dan Muslim no.226)

6. Membaca surah yang sudah ditentukan pada tiga rakaat yang terakhir
Dalil:

Hadits yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab –Radhiyallahu Anhu– , ia berkata,

«كَانَ رَسُولُ الله -صلى الله عليه وسلم- يُوتِرُ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبَّكَ الأَعْلَى، وَقُلْ يَا أَيُّها الكَافِرُوْن، وَقُلْ هُوَ الله أَحَدْ»

“Biasanya Rasulullah –Shallallahu Alaihi wa Sallam– ketika shalat witir membaca sabbih-isma rabbikal-a’la (Al-A’la), qul yaa ayyuhalkafiruun (Al-Kafirun), dan qul huwa-llahu ahad (Al-Ikhlas).” (HR. Abu Dawud no.1423, An-Nasa’i no.1733, dan Ibnu Majah no. 1171)

Yaitu dengan membaca surah Al-A’la pada rakaat pertama, kemudian surah Al-Kafirun pada rakaat kedua, dan surah Al-Ikhlas pada rakaat ketiga. Itu saja, tidak ada surah lain.

7. Sesekali berqunut pada shalat witir

Doa qunut pada shalat witir ini hukumnya sunnah untuk dilakukan sesekali (Maksudnya terkadang dibaca dan terkadang tidak), karena didasari keterangan yang shahih dari kalangan sahabat Nabi tentang hal itu. Akan tetapi dalam hal ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –Rahimahullah– lebih memilih untuk sering tidak melakukannya daripada melakukannya.

8. Berdoa pada sepertiga malam terakhir

Salah satu sunnah yang sebaiknya dilakukan pada waktu-waktu terakhir di malam hari adalah berdoa. Apabila sudah melakukan qunut, maka doa tersebut sudah cukup mewakili. Namun jika tidak melakukannya, maka hendaknya ia memanjatkan doa yang ia inginkan pada saat-saat tersebut, karena pada waktu itulah doa-doa dikabulkan, sebab ada saat di mana Allah –Subhanahu wa Ta’ala– turun ke langit dunia, dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya.

Sebagaimana disebutkan dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, sebuah riwayat dari Abu Hurairah –Radhiyallahu Anhu- bahwasanya Rasulullah –Shallallahu Alaihi wa Sallam- pernah bersabda,
“Ketika sudah lewat tengah malam, Tuhan kalian turun ke langit dunia pada setiap malamnya, lalu berfirman, ‘Siapapun yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan kabulkan doanya. Siapapun yang meminta sesuatu kepada-Ku, maka akan Aku berikan permintaannya. Dan siapapun yang memohon ampun kepada-Ku, maka akan Aku ampuni dosanya.’”
(HR. Bukhari no. 1145, dan Muslim no. 758)

9. Setelah selesai mengucapkan salam dari shalat witir, maka hendaknya mengucapkan, subhanal-malikil-quddus sebanyak tiga kali dengan mengangkat suara lebih tinggi pada kali yang ketiga
Doa Setelah Witir (3x), Lafadz Doa dikeraskan pada pengulangan ke-3

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ

subhanal-malikil-quddus

10. Membangunkan istri dan anggota keluarga untuk ikut shalat malam

Hadits yang diriwayatkan dari bunda Aisyah –Radhiyallahu Anha– ia berkata,

Dalilnya adalah:

«كَانَ النَّبِيُّ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّي صَلَاتَهُ مِنَ اللَّيْلِ كُلَّهَا، وَأَنَا مُعْتَرِضَةٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُوتِرَ أَيْقَظَنِي فَأَوْتَرْتُ»

“Biasanya Nabi –Shallallahu Alaihi wa Sallam– melakukan shalat tahajjudnya seorang diri pada setiap malamnya, saat itu aku berada di tengahtengah antara beliau dengan kiblat. Lalu apabila beliau hendak menutup shalatnya dengan witir, barulah beliau membangunkan aku. Dan aku pun terbangun untuk menutup malam dengan shalat witir.” (HR. Bukhari no.512, dan Muslim no.512)

11. Siapa yang terlewat shalat malamnya, maka ia bisa menggantinya di siang hari dengan menggenapkannya
Scroll to Top