Amraini – Learn Sunnah

Amalan Sunnah Pada Saat Berwudhu

Video Penjelas (By. Yufid TV)
1. Bersiwak

Sunnah ini dilakukan sebelum memulai wudhu, atau lebih tepatnya sebelum berkumur-kumur. Sunnah bersiwak ini merupakan kali yang kedua setelah sebelumnya telah disunnahkan pula saat bangun dari tidur. Sunnah bersiwak sebelum berwudhu ini dianjurkan secara umum untuk setiap kali hendak berwudhu.

Dalil:

Riwayat dari Abu Hurairah -Radhiyallahu Anhu-, bahwasanya Rasulullah –Shallallahu Alaihi wa Sallam- pernah bersabda,

«لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ وُضُوءٍ»

Kalau saja tidak akan memberatkan umatku, maka akan aku perintahkan pada mereka untuk bersiwak pada setiap kali berwudhu.” (HR. Ahmad no. 9928)

2. Membaca Bismillah
Dalil:

Riwayat dari Abu Hurairah -Radhiyallahu Anhu-, bahwasanya Rasulullah –Shallallahu Alaihi wa Sallam- pernah bersabda,

«لَا وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ الله»

 Tidaklah sah wudhu seseorang jika tidak menyebutkan asma Allah di dalamnya.” (HR. Ahmad no.11371, Abu Dawud no.101, dan Ibnu Majah no.397)

3. Membasuh telapak tangan sebanyak tiga kali
Dalil:

 hadits yang diriwayatkan dari Utsman –Radhiyallahu Anhu– ketika mencontohkan tata cara wudhu yang diajarkan oleh Nabi –Shallallahu Alaihi wa Sallam-. Pada hadits itu disebutkan,

دعا بوَضُوءٍ ، فتوضأَ ، فغسل كفيْه ثلاثَ مراتٍ

 “..Ia meminta diambilkan air untuk berwudhu. Lalu ia membasuh kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali..”

lalu disebutkan pula pada riwayat tersebut bahwa Utsman berkata,

رَأَيْتُ النَّبِيَّ -صلى الله عليه وسلم- يَتَوَضَّأُ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا»

“..Aku pernah melihat Nabi –Shallallahu Alaihi wa Sallam– berwudhu seperti wudhu yang aku lakukan ini.” (HR. Bukhari no.164, dan Muslim no.226)

4. Mendahulukan anggota tubuh bagian kanan ketika membasuh tangan dan kaki
Dalilny adalah:

hadits yang diriwayatkan dari Aisyah –Radhiyallahu Anha-, ia berkata:

«كَانَ النَّبِيُّ -صلى الله عليه وسلم- يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ»

“Sesungguhnya Nabi –Shallallahu Alaihi wa Sallam- senang mendahulukan anggota tubuh bagian kanan ketika mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci, atau dalam melakukan apapun juga.” (HR. Bukhari no.168, dan Muslim no.268)

5. Memulai wudhu dengan berkumur dan istinsyaq (menyeka hidung bagian dalam dengan air lalu menghembuskannya)
Dalilny adalah:

Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Utsman –Radhiyallahu Anhu- ketika mencontohkan tata cara wudhu yang diajarkan oleh Nabi –Shallallahu Alaihi wa Sallam-. Pada hadits itu disebutkan,

 « … فَمَضْمَضَ، وَاسْتَنْثَرَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ … » 

“..Lalu ia berkumur, beristinsyaq, kemudian membasuh wajahnya sebanyak tiga kali..” (HR. Bukhari no.199, dan Muslim no.226)

6. Maksimal dalam berkumur dan berintinsyaq di luar waktu puasa.
Dalilnya adalah:

 Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Laqith bin Shabirah –Radhiyallahu Anhu– bahwasanya Nabi –Shallallahu Alaihi wa Sallam– pernah berkata kepadanya,

«أَسْبِغ الوُضُوءَ، وخَلِّلْ بَيْنَ الأصَابِعِ، وبَالِغْ فِي الاسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ صَائِماً»

 Sempurnakanlah wudhumu, basahilah sela di antara jari jemarimu, dan maksimalkan dalam beristinsyaq kecuali pada saat kamu dalam keadaan berpuasa.” (HR. Ahmad no. 17846)

7. Hanya menggunakan satu telapak tangan saat berkumur dan beristinsyaq
Dalilnya adalah:

Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid –Radhiyallahu Anhuketika menjelaskan tentang tata cara wudhu yang dilakukan oleh Nabi –Shallallahu Alaihi wa Sallam-, ia berkata,

« … أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا، فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفِ وَاحِدَةٍ، فَفَعَلَ ذلِكَ ثَلَاثاً … »

“..Beliau memasukkan satu tangannya ke dalam air, lalu mengambil air itu dan memasukkannya ke dalam mulut untuk berkumur, lalu ke dalam hidung untuk beristinsyaq, dengan hanya menggunakan satu telapak tangan saja. Beliau melakukan hal itu sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari no. 192, dan Muslim no. 235)

8. Mengusap bagian kepala sesuai sunnah

Tata caranya sebagai berikut:

  1.  Memulai usapan di kepala dengan meletakkan kedua tangannya di bagian depan kepala
  2. Kemudian tangannya bergerak ke bagian belakang dan digerakkan kembali ke bagian awal tempat ia bermula mengusapnya.

Kaum wanita juga disunnahkan untuk melakukan cara yang sama seperti itu. Adapun rambut yang melewati bagian leher, tidak perlu disapu dengan air.

Dalil:

Hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid –Radhiyallahu Anhu– ketika menjelaskan tentang tata cara wudhu yang dilakukan oleh Nabi –Shallallahu Alaihi wa Sallam-. Pada hadits itu disebutkan,

«بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ ثُمَّ ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ، ثُمَّ رَدَّهُمَا حَتَّى رَجَعَ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنْهُ»

“..Dimulai dari bagian depan kepalanya, kemudian diteruskan sampai bagian belakang kepala, lalu dikembalikan lagi hingga sampai di bagian awal saat ia mulai mengusapnya.” (HR. Bukhari no. 185, dan Muslim no. 235)

9. Membasuh Anggota Wudhu Sebanyak 3x

 Pembasuhan pertama pada wudhu hukumnya wajib, sedangkan pembasuhan yang kedua dan ketiga hukumnya sunnah. Tidak diperkenankan untuk membasuh lebih dari tiga kali.

Dalil:

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari -Rahimahullah-

«أنَّ النَّبيّ -صلى الله عليه وسلم- تَوَضَأَ مَرَّة، مرَّة»

bahwasanya Nabi –Shallallahu Alaihi wa Sallam– berwudhu dengan membasuh setiap anggota wudhunya sebanyak satu kali-satu kali. (HR. Bukhari no. 157)

Namun Imam Bukhari juga meriwayatkan hadits lain, dari Abdullah bin Zaid –Radhiyallahu Anhu

«أنَّ النَّبيّ -صلى الله عليه وسلم- توضأ ثلاثا»

bahwasanya Nabi –Shallallahu Alaihi wa Sallamberwudhu dengan membasuh setiap anggota wudhunya sebanyak dua kali dua kali. (HR. Bukhari no. 158)

Juga ada hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dari Utsman –Radhiyallahu Anhu– bahwasanya Nabi –Shallallahu Alaihi wa Sallam– berwudhu dengan membasuh setiap anggota wudhunya sebanyak tiga kali.

Dengan adanya opsi bacaan yang beragam itu, maka ada baiknya kaum muslimin menerapkan semua tuntunan tersebut masing-masing secara berkala, misalnya terkadang membasuhnya satu kali-satu kali, terkadang dua kali-dua kali, dan terkadang tiga kali-tiga kali.

Atau, boleh juga diterapkan dalam satu kali wudhu. Misalnya ia membasuh wajahnya sebanyak tiga kali,  membasuh lengannya sebanyak dua kali, sedangkan kakinya dibasuh sebanyak satu kali saja, sebagaimana dijelaskan pula cara yang demikian dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abdullah bin Zaid –Radhiyallahu Anhu -.

10. Berdoa setelah wudhu
Doa Setelah Berwudhu (1)

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وأَتُوبُ إلَيْكَ

‘Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu anla ilaaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik 

bahwasanya Nabi –Shallallahu Alaihi wa Sallamberwudhu dengan membasuh setiap anggota wudhunya sebanyak dua kali dua kali. (HR. Bukhari no. 158)

Atau:

 أَشْهَدُ أَنَّ لَا إِلهَ أَلاَّ اللّهُ، وَأَنَّ مُحمَّداً عَبْدُ اللّهِ وَرَسُولُهُ

Asyhadu anla Ilaaha Illallah wa Anna Muhammadan Abdullahi wa Rasuluh

 Aku bersaksi bahwa tiada tuhan melainkan Allah dan bahwa Muhammad hamba dan Rasul-Nya

Doa Setelah Berwudhu (2)

 Hadits yang diriwayatkan dari Umar –Radhiyallahu Anhu ia berkata, Rasulullah –Shallallahu Alaihi wa Sallam– pernah bersabda, “Tidaklah seseorang di antara kali berwudhu dengan wudhu yang sempurna, lalu ia ucapkan setelahnya, ‘Asyhadu anla Ilaaha Illallah wa Anna Muhammadan Abdullahi wa Rasuluh (Aku bersaksi bahwa tiada tuhan melainkan Allah dan bahwa Muhammad hamba dan Rasul-Nya),’ kecuali akan dibukakan baginya delapan pintu surga, ia boleh masuk ke dalam surga melalui pintu manapun yang ia kehendaki.” (HR. Muslim no. 234)

Dalil Pertama

Hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa’id –Radhiyallahu Anhusecara marfu, “Barangsiapa yang selesai dari wudhunya mengucapkan, ‘Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu anla ilaaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik (Mahasuci Engkau ya Allah, dengan segala rasa syukur aku bersaksi bahwa tiada tuhan melainkan Allah dan bahwa Muhammad hamba dan Rasul-Nya),’ maka Allah akan mencatat amal tersebut dan memberi cap khusus pada catatan itu, lalu diangkat hingga berada di bawah Arsy dan catatan itu tidak akan hancur hingga hari kiamat nanti.” (HR. An-Nasa’i)

Dalil Kedua

Artikel Lainnya

Scroll to Top