Amraini – Learn Sunnah

Shalat Dhuha

Video Penjelas (By. Yufid TV)
1. Dalil-Dalil Disyariatkannya Sholat dhuha

Disunnahkan bagi setiap hamba agar melaksanakan shalat dhuha ketika sudah tiba waktu dhuha

Dalam kitab Shahih Muslim juga disebutkan sebuah riwayat dari bunda Aisyah –Radhiyallahu Anha– yang menjelaskan bahwa setiap manusia itu diciptakan memiliki tiga ratus enam puluh persendian. Apabila semua hak sedekahnya terpenuhi, maka pada hari itu ia sedang berjalan untuk menjauhkan dirinya dari api neraka Jahannam.


Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah –Radhiyallahu Anhu– ia berkata, 

«أَوْصَانِي خَلِيلِي -صلى الله عليه وسلم- بِثَلَاثٍ: صيامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَرَكْعَتَيْ الضُّحَى، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ»

“Kekasihku (yakni Nabi) –Shallallahu alaihi wa Sallam pernah memberiku tiga wasiat (pesan/nasehat), yaitu agar berpuasa selama tiga hari di setiap bulan (yakni setiap tanggal 13,14,15 di bulan-bulan hijriah), agar melaksanakan shalat sunnah dhuha duarakaat, dan agar aku melaksanakan shalat witir sebelum aku beranjak ke pembaringan.”

Dalil Pertama

Hadits yang diriwayatkan dari Abu Dzar –Radhiyallahu Anhu–, dari Nabi –Shallallahu alaihi wa Sallam–, bahwasanya beliau pernah bersabda 

«يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ، فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَيُجَزِاءُ، مِنْ ذلِكَ، رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى» 

“Ketika memasuki pagi, setiap persendian kalian berhak atas sedekah, namun ketahuilah bahwa setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, mengajak pada kebaikan adalah sedekah, mencegah suatu kemungkaran adalah sedekah, dan jumlah tersebut sudah bisa terpenuhi cukup dengan melakukan shalat sunnah dhuha dua rakaat.” (HR. Muslim no. 720)

Dalil Kedua
2. Waktu Pelaksanaan Shalat Dhuha

Dimulai sejak diperbolehkannya melaksanakan shalat dhuha (Yaitu 15 menit sesaat setelah matahari terbit), tepatnya saat matahari naik dan bayangan tombak setara dengan ukuran tingginya. 

Dan waktu shalat dhuha ini berakhir sebelum matahari berpindah arah (dari timur ke barat), tepatnya kira-kira sepuluh menit sebelum memasuki waktu zhuhur.

Hadits yang diriwayatkan dari Amru bin Abasah – Radhiyallahu Anhu

«صَلِّ صَلَاةَ الصُّبْحِ، ثُمَّ أَقْصر عَنِ الصَّلَاةِ حِيْنَ تَطْلُعَ الشَّمْسُ حتى تَرْتَفِعِ … ، ثُمَّ صَلِّ، فَإِنَّ الصَّلَاةَ مَشْهُودَةٌ مَحْضُورَةٌ، حتى يَسْتَقِلَّ الظِّلَّ بِالرُّمْحِ، ثُمَّ أَقْصر عَنِ الصَّلَاةِ، فإنَّه حِينَئِذٍ تُسْجَرُ جَهَنَّمُ … »

“Kerjakan shalat shubuh, lalu jangan melakukan shalat (apapun) hingga matahari mulai meninggi.. (setelah meninggi barulah) kerjakan shalat (dhuha) karena sesungguhnya shalat itu disaksikan dan dihadiri (oleh para malaikat), (waktunya) sampai bayangbayang tombak menjadi sangat sedikit, lalu jangan melakukan shalat (apapun), karena ketika itu api neraka Jahannam sedang dinyalakan..” (HR. Muslim no. 832).

Dalilnya adalah:
3. Waktu Terbaik Untuk Melaksanakan Sholat Dhuha

Waaktu melaksanakan shalat dhuha yang paling afdhal dan utama adalah waktu dimana matahari begitu menyengat yaitu sesaat sebelum berakhirnya waktu dhuha sebagaimana telah disebut pada poin sebelumnya.

hadits yang diriwayatkan dari Zaid bin Arqam – Radhiyallahu Anhu– bahwasanya Nabi –Shallallahu alaihi wa Sallam– pernah bersabda, 

«صَلَاةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمضُ الْفِصَالُ»

“(Waktu) shalat awwabin (dhuha) itu adalah ketika anak unta merasakan kepanasan.” (HR. Muslim no. 748)

Dalilnya adalah:
4. Jumlah rakaat shalat dhuha

Shalat dhuha disunnahkan paling sedikit dua rakaat. 

Adapun jumlah maksimal untuk shalat dhuha, pendapat yang paling shahih adalah tidak ada batasan maksimal untuk shalat ini, tidak hanya sampai delapan rakaat seperti yang dikemukakan oleh sebagian ulama. Oleh karena itu, jumlah rakaat shalat dhuha boleh ditambah di atas delapan rakaat hingga berapa pun yang mau dilakukan. Dalilnya: 

Dengan dalil hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah –Radhiyallahu Anhu– dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim

«أوْصَانِيْ خَلِيْلِيْ بِثَلاث -وذكر منها- ورَكعتَيِ الضُّحى»

“Kekasihku (Yakni Nabi –Shallallahu Alaihi wa Sallam-) telah mewasiatkan tiga hal kepadaku..” salah satunya adalah, “dua rakaat shalat dhuha.” (HR. Bukhari no.1981, dan Muslim no. 721)

Dalilnya adalah:

Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan dari bunda Aisyah –Radhiyallahu Anha–, ia berkata,

«كَانَ رَسُولُ اللّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّي الضُّحَى أَرْبَعَاً، وَيَزِيدُ مَا شَاءَ اللّهُ»

“Biasanya Rasulullah –Shallallahu alaihi wa Sallam– shalat dhuha sebanyak empat rakaat, dan terkadang beliau menambahkannya sebanyak yang Allah kehendaki.” (HR. Muslim no. 719)

Dalilnya adalah:

Artikel Lainnya

Scroll to Top